LATAR | SOLO EXHIBITION | BETWIXT AND BETWEEN | PUTU SUTAWIJAYA

10 Nov 2017 – 10 Jan 2018

POSTER_SE PS_website
 

 

Refleksi Jiwa Putu Sutawijaya

Salah satu kritikus seni rupa Rosalind Krauss (Amerika) pernah menggemparkan ketika dia menyatakan bahwa dari semua disiplin ekspresi seni rupa, hanya patung yang pada dirinya melekat suatu fenomena ekspresi yaitu “Static in Motion” : suatu proses pembekuan massa dan gerak, namun memiliki kekuatan ekspresi yang menghidupkan. Pandangan yang setara tentang gagasan ekspresi  ini ada pada arsitektur modern  yaitu sebagai ekspresi “Frozen Music” : pembekuan ruang dan massa merupakan suatu bangunan partitur musik.

Karya Putu Sutawijaya membawa kita memahami bagaimana pembekuan ruang dan massa menjadi teks yang memiliki kekuatan dialogis bagi semua pemirsa yang secara sadar akan melakukan proses afirmasi dan asosiasi  bagi pengalaman estetik dan pengalaman inteleknya.  Tentu interpretasi yang beragam akan bermunculan mulai dari gagasan Putu tentang peran seniman dalam kehidupan, tentang refleksi atas  ketidakadilan, dan gugatan atas batasan dan represi yang akan mematikan potensi kreatif manusia, sampai ke pernyataan bahwa “kesunyian” adalah juga hak dasar hidup manusia. Secara khusus saya ingin memberi catatan untuk karya ini :  Putu mewujudkan kesunyian dengan ekspresi keramaian, dalam karya berjudul “Sunyi” konsep sunyi bukan menjadi gugatan tapi lebih kepada konsep patologis sebagai dampak socio cultural,  pada karya “Berebut Kesunyian” ada ruang yang terbatas padat dengan manusia, berebut kesunyian membuat kita sadar melihat hal-hal yang muskil dan utopis.

Melalui ekspresi seni patung, Putu membuka kemampuan kreatifnya pada beragam sumber inspirasi dan kepedulian yang selalu ada pada dirinya. Proses pembekuan massa dan gerak dalam karya Putu merupakan suatu eksplorasi yang tidak bertepi, karena dia menyadari kekuatan ekspresi medium ini.

Di dalam diam ada gerak, di dalam gerak ada kehidupan.

Dolorosa Sinaga Pinang ranti, 8 November 2017

Foto Karya